Pada
suatu hari ada seorang pemabuk yang mengundang sekelompok sahabatnya. Mereka
pun duduk, kemudian si pemabuk memanggil budaknya, lalu ia menyerahkan empat
dirham kepada pembantunya dan menyuruhnya agar membeli buah-buahan untuk
teman-temannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanan, si pembantu melewati
seseorang yang zuhud, yaitu Manshur bin Ammar. Beliau berkata, “Barangsiapa
memberikan empat dirham kepadanya. Selanjutnya Manshur bin Ammar bertanya, “Doa
apa yang Anda inginkan?” Lalu ia menjawab, “Pertama, saya mempunyai majikan
yang bengis.
Ridha dengan Takdir yang Pahit
Dihikayatkan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang shalih
melewati seorang laki-laki yang terkena penyakit lumpuh separuh badan,
ulat bertebaran dari dua sisi perutnya, lebih dari itu ia juga buta dan
tuli. Lelaki lumpuh itu mengatakan, “segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkanmu dari cobaan yang telah dialami oleh banyak orang.”
Lantas lelaki shalih yang lewat itu heran, kemudian bertanya kepadanya,
“Wahai saudaraku! Apa yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dari dirimu padahal saya melihat semua musibah, menimpa dirimu?” Ia
menjawab, “Menyingkirlah kamu dariku hai pengangguran! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah menyelamatkanku karena Dia menganugerahkan kepadaku lisan yang
selalu mentauhidkan-Nya, hati yang dapat mengenal-Nya, dan waktu yang
selalu kugunakan untuk berdzikir kepada-Nya.”
10 Malam Terakhir Ramadhan
Bismillah
Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah.
Diriwayatkan
dari Aisyah ra., Sesungguhnya Nabi saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir
(bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan
membangunkan isterinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya
(tidak mengauli istrinya). (Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan
dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw bersungguh-sungguh solat malam pada
sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam
bulan selainnya. (Muslim). Dari
Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Barang siapa yang solat malam
menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (Riwayat Jama'ah)
Utsman bin Affan
Beliau adalah Abu Abdillah Utsman bin Affan bin al-Ash bin Umayyah
bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pada kakek keempat yaitu Abdu Manaf, di masa jahiliah
beliau dipanggil Abu Amr namun tatkala dari istri beliau yaitu Ruqayyah binti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam terlahir seorang laki-laki yang diberi
nama Abdullah lalu beliau berganti menjadi Abu Abdillah, dan beliau masyhur
dengan julukan dzu nurain (pemilik dua cahaya).
Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Di masa jahiliyah Utsman bin Affan adalah seorang yang terpandang dan dimuliakan oleh kaumnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Karena itulah ia sangat dicintai dan dimuliakan oleh kaumnya. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung pun, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar baik sebelum maupun setelah Islam. Utsman bercerita, “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan, aku pun tidak pernah menyentuh dzakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah minum khamar di masa jahiliah maupun setelah Islam.”
Subscribe to:
Posts (Atom)